Penelitian ini menganalisis novel Pangeran Diponegoro karya Remy Sylado melalui perspektif metafiksi historiografis. Konsep metafiksi historiografis yang mekankan adanya kegandaan, ironi, dan dekonstruksi representasi sejarah. Novel tersebut memadukan fakta sejarah dan elemen fiktif untuk menampilkan peristiwa menjelang Perang Jawa pada 1825-1830. Hasil analisis menunjukkan bahwa Remy Sylado menggunakan parodi dalam mengonstruksi ulang masa lalu secara tidak nostalgis, melainkan reflektif terhadap realitas sosial-politik di masa kini. Isu yang diangkat dalam novel ini mengenai mafia tanah, mafia pajak, sentimen anti-Cina, gratifikasi seks, pemimpin boneka, dan pejabat oportunis sebagai bentuk representasi yang masih terjadi di Indonesia pada masa kini. Selain itu, penggunaan tokoh fiktif dalam novel ini berfungsi untuk mengaitkan adat, budaya, politik, dan dinamika sosial masa kolonial dengan narasi utama. Dalam penelitian ini juga ditemukan fungsi edukatif novel dalam menumbuhkan nasionalisme, pemahaman sejarah, hingga penguatan karakter. Novel ini juga menghadirkan Trigatra Bangun Bahasa melalui bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing dalam konteks historisnya. Secara umum, novel ini menjadi bukti penting bahwa karya sastra mampu merefleksikan kontinuitas sejarah sekaligus mengkritisi struktur kekuasaan dalam bingkai metafiksi historiografis.
Copyrights © 2026