Penerapan metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) sebagai standar komunikasi klinis terbukti meningkatkan keselamatan pasien, namun implementasinya di lapangan seringkali belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan metode SBAR oleh perawat di ruang rawat inap, dengan fokus pada peran gaya kepemimpinan kepala ruangan, dukungan manajemen rumah sakit, pemahaman dan persepsi positif perawat, kompetensi komunikasi individu, dan pengalaman kerja. Penelitian ini menggunakan desain analitik cross-sectional yang dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang. Sampel sebanyak 56 perawat diambil dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara statistik dengan Uji Korelasi Rank Spearman Rho dan Analisis Regresi Linier Berganda untuk mengidentifikasi pengaruh bersama dan dominasi variabel independen terhadap penerapan SBAR. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa kelima variabel secara bersama-sama berpengaruh signifikan dan membentuk model prediksi yang kuat (R Square = 0,766; p = 0,000). Pemahaman dan persepsi positif terhadap SBAR menjadi faktor prediktor paling dominan (β = 0,508; p = 0,000), diikuti oleh gaya kepemimpinan kepala ruangan (β = 0,352; p = 0,000). Temuan ini mengonfirmasi bahwa keberhasilan implementasi SBAR memerlukan pendekatan multifaktor yang dimulai dari pembangunan landasan kognitif-afektif individu, dikatalisasi oleh kepemimpinan klinis yang efektif, dan didukung oleh sistem organisasi yang memadai. Penelitian ini merekomendasikan institusi pelayanan kesehatan untuk merancang program intervensi berjenjang yang memprioritaskan edukasi kontekstual, pengembangan kapasitas kepemimpinan, dan integrasi kebijakan pendukung guna menciptakan budaya komunikasi yang aman dan berkelanjutan
Copyrights © 2025