Bencana alam yang kerap melanda wilayah Indonesia memiliki dampak devastatif yang tidak hanya pada aspek fisik dan infrastruktur, tetapi juga pada sektor pendidikan. Pascabencana, lembaga pendidikan menghadapi tantangan kompleks berupa kerusakan fasilitas, trauma psikologis peserta didik dan pendidik, serta terputusnya proses pembelajaran. Dalam konteks ini, kepemimpinan tradisional dirasakan tidak lagi cukup untuk mengatasi krisis secara cepat dan efektif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis peran kepemimpinan digital sebagai katalisator inovasi pendidikan dalam situasi pascabencana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada sekolah-sekolah di wilayah terdampak bencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin yang memiliki kompetensi digital mampu memanfaatkan teknologi untuk membangun komunikasi yang cepat, mengelola pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara fleksibel, dan menciptakan ekosistem pembelajaran yang tangguh (resilient). Inovasi yang muncul meliputi penggunaan platform Learning Management System (LMS) darurat, koordinasi sumber daya melalui media sosial, dan pemetaan kebutuhan siswa secara digital. Temuan ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan digital bukan sekadar penguasaan teknologi, melainkan kemampuan visioner untuk memanfaatkan teknologi dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah krisis. Artikel ini merekomendasikan pentingnya integrasi pelatihan kepemimpinan digital dalam manajemen berbasis sekolah sebagai strategi mitigasi risiko pendidikan.
Copyrights © 2026