Kanker payudara merupakan penyakit tidak menular (PTM). Penyebab kejadian kanker payudara belum ditemukan penyebabnya. Adanya kerusakan sel-sel pada jaringan payudara yang ditandai dengan berubahnya bentuk fisik dan karakteristik secara genetik pada payudara merupakan indikator awal untuk selanjutnya di diagnosis oleh pakar kesehatan. Meskipun tumor payudara tidak bersifat mengancam jiwa penderitanya, jenis benjolan tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara. Pada setiap benjolan yang ditemukan memerlukan pemeriksaan oleh ahli kesehatan. Hal itu bertujuan untuk menentukkan apakah benjolan tersebut merupakan faktor risiko tumor payudara ataupun kanker payudara dan juga menentukan tindakan pengobatan yang tepat bagi penderitanya dan Pemeriksaan payudara sendiri atau yang dikenal dengan SADARI ialah teknik skrinning awal yang dapat diterapkan dan dilakukan oleh semua orang, dan diakui efektif dalam mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat kanker payudara. Tujuan dari metode SADARI adalah guna mendeteksi dini jika terdapat benjolan ataupun tanda- tanda lain yang mencurigakan pada payudara agar dapat melakukan tindakan pengobatan yang tepat secepatnya (Krisdianto,2019).Berdasarkan riset penyakit tidak menular (PTM) 2016, dari 43.948 partisipan, SADARI merupakan metode yang paling umum diketahui. Wanita yang mengetahui deteksi dini kanker payudara menggunakan metode SADARI yakni sebanyak 18.507 (78,0%) dan mengetahui deteksi dini kanker payudara metode SADANIS yakni sebanyak 10.420 (43,9%). SADARI juga merupakan metode yang paling umum dilakukan, yakni 19.090 wanita, sementara SADANIS hanya 1758 partisipan dan Menurut Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) tahun 2016 mengenai perilaku masyarakat dalam mendeteksi dini kanker payudara mengguanakan metode SADARI dan SADANIS, diketahui tergolong rendah. Sebanyak 46,3%masyarakat merasa pernah melakukan SADARI dan 53,7% lainnya mengaku tidak pernah melakukan SADARI. Pada metode SADANIS, hanya 4,4% masyarakat pernah melakukan SADANIS, dan 95,6% lainnya mengaku belum pernah melakukan SADANIS (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016).Kegiatan Penyuluhan tentang pemeriksaan SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara Di STIK Bina Husada Palembang dengan sasaran pada remaja putri. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri bahwasannya pemeriksaan SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara. Pelaksanaan penyuluhan ini dengan dilakukan metode ceramah, demonstrasi dan dilanjutkan dengan tanya jawab serta penutup. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dimulai dengan pembagian kuisoner untuk mengetahui remaja yang melakukan pemeriksaan sadari, Kemudian petugas memberikan penjelasan tentang apa pemeriksaan sadari serta tujuan dan manfaatnya pemeriksaan sadari, setelah memberikan penjelasan memberikan leaflet cara pemeriksaan sadari dan kemudian mengajari dan serta memperagakan pelaksanaan pemeriksaan sadari setelah pelaksana melakukan kemudian dilanjutkan oleh remaja dalam melakukan sadari.
Copyrights © 2025