Kekerasan seksual terhadap anak berdampak jangka panjang pada perkembangan psikologis dan identitas diri, sehingga pencegahan perlu melampaui edukasi informatif dan melatih respons perilaku anak secara konkret. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas Program Pelatihan Perlindungan Diri (P3D) pada anak usia 7–8 tahun di Kota Padangsidimpuan, konteks sosial-budaya yang kerap memandang pembahasan tubuh dan seksualitas sebagai tabu sehingga berpotensi menghambat edukasi perlindungan diri sejak dini. Studi menggunakan desain eksperimen one-group pre-test–post-test dengan sampel 30 anak (15 laki-laki; 15 perempuan) yang dipilih melalui kombinasi purposive sampling dan quota sampling pada wilayah dengan kasus kekerasan seksual anak relatif tinggi. Pengetahuan diukur menggunakan 15 item bergambar berbasis modul P3D, sedangkan keterampilan dinilai melalui observasi indikator perilaku saat simulasi/role-play. Analisis dilakukan menggunakan JASP melalui statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro Wilk, paired sample t-test untuk menguji efektivitas program, serta independent sample t-test berbasis gain score untuk menguji perbedaan peningkatan berdasarkan jenis kelamin (p < .05). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan (Mpre=7.067; Mpost=9.833; t(29)=7.950; p<.001; ΔM=2.767) dan keterampilan (Mpre=7.200; Mpost=10.90; t(29)=9.280; p<.001; ΔM=3.700). Tidak ditemukan perbedaan peningkatan berdasarkan jenis kelamin baik pada pengetahuan (t(28)= -1.465; p=.154) maupun keterampilan (t(28)=-1.634; p=.114), sehingga H1–H2 didukung dan H3–H4 tidak didukung. Temuan ini menegaskan P3D efektif dan inklusif gender dalam meningkatkan kapasitas perlindungan diri anak, serta mendukung penguatan intervensi preventif yang aplikatif dan sensitif konteks bagi sekolah dan keluarga. Kata Kunci: Pelatihan Perlindungan Diri, P3D, Kekerasan Seksual Anak, Anak Usia 7-8 Tahun.
Copyrights © 2025