Pelecehan seksual dalam bentuk catcalling merupakan fenomena sosial yang semakin marak terjadi, terutama di ruang publik seperti kawasan Kenjeran, Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman korban catcalling, menganalisis dampak psikologis dan sosial yang dialami, serta mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya kasus pelecehan verbal. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini melakukan wawancara mendalam dengan lima mahasiswi perempuan yang menjadi korban catcalling. Hasil penelitian menemukan tiga tema utama yang secara konsisten muncul dari pengalaman para korban: 1) Rasa Takut dan Ketidaknyamanan, yang membuat korban merasa terancam dan cemas saat beraktivitas di ruang publik; 2) Perubahan Perilaku, di mana korban mulai menghindari lokasi tertentu atau mengubah cara berpakaian untuk menghindari pelecehan; dan 3) Internalisasi Norma Patriarki, yang membuat korban merasa dilecehkan namun juga merasa tidak berdaya karena menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang "lumrah" atau "wajar" di masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa catcalling bukan sekadar "gangguan ringan," melainkan masalah serius yang berakar pada budaya patriarki dan norma sosial yang merendahkan perempuan. Untuk menciptakan ruang publik yang lebih aman, diperlukan upaya edukasi masyarakat secara menyeluruh dan penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelaku pelecehan.
Copyrights © 2025