Meskipun prevalensi stunting nasional menunjukkan tren penurunan, NTT tetap menjadi salah satu provinsi dengan angka tertinggi di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Provinsi NTT berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional berbasis data sekunder SKI 2023 dengan total sampel 3.449 anak usia 0-59 bulan. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan complex samples. Uji bivariat dengan chi-square (p < 0,05) diikuti analisis regresi logistik multivariat untuk variabel dengan p < 0,25. Hasil disajikan dalam Adjusted Odds Ratio (AOR) dan 95% Confidence Interval (CI). Prevalensi stunting di NTT sebesar 32,5%. Faktor signifikan yang berhubungan dengan stunting meliputi usia anak, dengan risiko tertinggi pada usia 36–47 bulan (AOR = 3,014; p < 0,001), jenis kelamin laki-laki (AOR = 1,294; 95% CI: 1,095–1,528; p = 0,003), berat lahir <2.500 gram (AOR = 1,762; p < 0,001), pendidikan ibu rendah (SD: AOR = 1,601; SMP: AOR = 1,888; p < 0,001), status gizi ibu kurang (LILA <23 cm) (AOR = 1,309; p < 0,001), tinggi badan ibu <150 cm (AOR = 1,964; p < 0,001), dan tempat tinggal di pedesaan (AOR = 1,905; p < 0,001). Kesimpulannya, stunting di NTT dipengaruhi oleh faktor biologis dan sosial. Intervensi multisektoral yang berfokus pada peningkatan gizi ibu dan anak serta prioritas wilayah pedesaan diperlukan untuk percepatan penurunan prevalensi stunting.
Copyrights © 2025