Penelitian ini membahas manajemen krisis dan respons insiden keamanan siber di era digital yang semakin kompleks. Perkembangan transformasi digital meningkatkan efisiensi organisasi, namun juga memperbesar risiko kebocoran data dan serangan siber yang dapat mengancam reputasi, kepercayaan publik, serta keberlanjutan bisnis. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang bersumber dari jurnal ilmiah, buku, dan prosiding, serta diperkuat dengan analisis studi kasus kebocoran data Tokopedia tahun 2020 dan serangan ransomware pada Bank Syariah Indonesia (BSI) tahun 2023. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar organisasi di Indonesia masih menerapkan pendekatan reaktif dalam menangani krisis keamanan digital, dengan keterbatasan integrasi antara kesiapan teknis, komunikasi krisis, dan perencanaan keberlanjutan bisnis. Meskipun sistem pemulihan dan koordinasi internal mampu menjaga operasional tetap berjalan, keterlambatan penyampaian informasi kepada publik berpotensi menurunkan kepercayaan pemangku kepentingan. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan manajemen krisis digital memerlukan sinergi antara kesiapan teknis, komunikasi internal dan eksternal yang transparan, serta budaya organisasi yang mendukung pembelajaran dan evaluasi pascakrisis.
Copyrights © 2025