Pengelolaan sampah di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, menunjukkan tren dualistik dengan penurunan akumulasi sampah dari tahun 2020 hingga 2022, yang kemudian diikuti oleh peningkatan signifikan pada tahun 2023 dengan total mencapai tiga belas juta metrik ton. Lonjakan ini menjadi perhatian serius, karena jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di provinsi ini mencapai lima ribu sembilan ratus ton, yang sebagian besar terdiri atas sampah makanan, kayu dan ranting, kertas dan kardus, plastik, logam, kain, karet dan kulit, kaca, serta berbagai bahan lainnya. Sebagai contoh utama, Kota Bandung menghadapi tantangan besar dalam penanganan penimbunan sampah dengan timbunan 42.500 ton dalam satu bulan, meskipun upaya pengangkutan telah dilakukan secara berkala oleh pemerintah. Namun, masih terdapat sampah yang tidak terangkut ke tempat pembuangan yang layak, sehingga tidak memberikan manfaat optimal bagi masyarakat maupun pemerintah. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah kota Bandung, menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan sampah perkotaan (MSW) guna memastikan penanganan berbagai jenis sampah secara menyeluruh. Dalam hal ini, Prinsip Pengelolaan Sampah Terpadu (IWM) menjadi sangat penting karena menekankan efektivitas lingkungan, penerimaan sosial, dan keterjangkauan ekonomi. Salah satu langkah strategis yang perlu diperhatikan adalah integrasi sistem informasi (IS) dengan sistem pembuangan limbah formal, seperti TPS 3R, yang meskipun kompleks, yang menjadi elemen krusial dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Selain itu, kerangka kerja Guerrero, yang mempertimbangkan faktor lingkungan, ekonomi, dan sosial, memberikan wawasan mendalam mengenai sistem pengelolaan limbah dengan menyoroti pentingnya daur ulang dan sistem pengumpulan yang efisien. Namun, membedakan faktor yang memengaruhi sistem informasi (IS) dari faktor yang berdampak pada sistem formal masih menjadi tantangan tersendiri, hal tersebut semakin menegaskan kompleksitas pengelolaan limbah dalam kerangka IWM. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya strategi pengelolaan limbah yang disesuaikan dengan konteks lokal guna mencapai sistem keberlanjutan, sebagaimana yang dapat dilihat pada kasus Kota Bandung, Indonesia.
Copyrights © 2026