Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada anak usia balita dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Puskesmas Tambakrejo Kabupaten Jombang, angka kejadian ISPA pada balita masih tinggi. Pada bulan April 2025, terdapat 75 kasus ISPA dari total 127 balita sakit. Penanganan ISPA dapat dilakukan melalui kombinasi terapi farmakologi dan non farmakologi, yang terbukti dapat mempercepat pemulihan. Mengetahui efektivitas terhadap penyembuhan ISPA pada balita, serta memahami peran terapi non farmakologi dalam mendukung pemulihan gejala ISPA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah balita yang menderita ISPA ringan hingga sedang. Data sekunder menunjukkan dari 75 balita yang mengalami ISPA, sebanyak 53 anak sembuh setelah mendapatkan terapi kombinasi (farmakologi dan non farmakologi), sedangkan 22 anak tidak mengalami perbaikan karena hanya diberi obat atau tidak mendapatkan terapi pendamping sama sekali. Balita yang mendapatkan asuhan kebidanan secara menyeluruh, termasuk terapi uap esensial oil kayu putih, pijat akupresur, dan edukasi gizi, menunjukkan perbaikan signifikan dalam waktu 3–4 hari. Gejala batuk dan pilek berkurang bertahap, suhu tubuh stabil, dan nafsu makan meningkat. Sementara itu, balita yang tidak mendapat terapi lengkap cenderung mengalami gejala lebih lama. Pemberian kombinasi terapi farmakologi dan non farmakologi terbukti efektif mempercepat penyembuhan ISPA pada balita. Keterlibatan orang tua dalam proses perawatan juga menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan terapi.
Copyrights © 2025