Penafsiran populer tentang akhir zaman sering kali dihubungkan dengan bencana, ketakutan, dan penghakiman, sehingga menimbulkan kecemasan bagi banyak orang Kristen. Selain itu, pandangan eskatologi yang sering direduksi menjadi penghancuran total dan pelarian spiritual, juga mengakibatkan pasivitas etis. Namun, Wahyu 21:3-4 menghadirkan perspektif yang berbeda: akhir zaman bukanlah ancaman, melainkan penggenapan janji Allah yang menghadirkan pengharapan. Tujuan penelitian adalah menyajikan sintesis eksegetis-sistematis yang menggeser penantian akhir zaman dari sikap pasif menuju aksi transformatif. Metode yang digunakan adalah eksegesis terhadap Wahyu 21:3-4 dan analisis teologis sistematis terhadap implikasi Teologi Pengharapan Jurgen Moltmann. Hasilnya menunjukkan bahwa kehadiran Allah di tengah manusia menjadi pusat sukacita, menjamin pemulihan relasi, ciptaan, dan penggenapan perjanjian. Sukacita eskatologis ini menjadi kekuatan dinamis yang memanggil gereja untuk terlibat aktif dalam solidaritas, keadilan, dan pemeliharaan ciptaan. Wahyu 21:3-4 dapat dijadikan dasar teologis bagi gereja untuk meneguhkan pengajaran bahwa akhir zaman bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan sumber pengharapan dan sukacita kekal bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus.
Copyrights © 2025