Tahun 2025 menandai lima tahun sejak kerja jarak jauh diterapkan secara masif. Di Indonesia, kebijakan yang semula bersifat darurat telah bertransformasi menjadi arsitektur kerja hibrida yang relatif permanen namun menyisakan persoalan psikologis yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak psikologis berkepanjangan dari Work From Home (WFH) dan kerja hibrida terhadap karyawan lintas industri. Serta, mengidentifikasi pola stres, kelelahan, dan patologi kerja baru, termasuk fenomena coffee-badging dan digital presenteeism. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh menggunakan studi literatur, dan dianalisis melalui sintesis teoretis yang mengintegrasikan Conservation of Resources Theory, Boundary Theory, dan Social Exchange Theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja tidak selalu berfungsi sebagai sumber daya psikologis, melainkan kerap bertransformasi menjadi isolasi sosial kronis dan kelelahan kognitif. Penelitian ini juga mengungkap keterkaitan signifikan antara gangguan ergonomis fisik dan deplesi sumber daya psikologis, serta beban psikososial yang tidak proporsional pada pekerja perempuan akibat konflik peran ganda. Studi ini merekomendasikan penguatan kebijakan kerja berkelanjutan, termasuk pelembagaan Right to Disconnect dan mitigasi proximity bias, sebagai prasyarat menjaga kesehatan mental dan produktivitas tenaga kerja nasional.
Copyrights © 2026