PUJANGGA: Jurnal Bahasa dan Sastra
Vol. 11 No. 2 (2025): Volume 11 Nomor 2 Tahun 2025

Dekolonisasi Citra Nyai: Representasi Perempuan Dalam Sistem Kolonial Dan Feodal Hindia Belanda Pada Tokoh Nyai Ontosoroh

Fairuz, Fairuz (Unknown)



Article Info

Publish Date
31 Dec 2025

Abstract

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer menghadirkan realitas sosial pada era Hindia Belanda, ketika sistem kolonial dan feodalisme Jawa menimbulkan ketimpangan gender dan kelas. Sebutan “Nyai” dilekatkan dengan stereotip negative, seperti rendahnya pendidikan, materialisme, pengkhianatan terhadap bangsa, serta dianggap melanggar norma agama dan sosial. Namun, Nyai Ontosoroh dalam novel ini justru ditampilkan sebagai sosok perempuan pribumi yang cerdas, dan terdidik, sekaligus menantang konstruksi stereotip kolonial. Tujuan penelitian untuk menganalisis representasi identitas dan strategi perlawanan tokoh Nyai Ontosoroh terhadap dominasi kolonial dan patriarki dengan menekankan dimensi interseksionalitas gender, ras, dan kelas. Penelitian menggunakan teori feminisme postkolonial Spivak, Mohanty dan Crenshaw dengan metode deskriptif kualitatif melalui analisis naratif terhadap teks sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyai Ontosoroh direpresentasikan sebagai perempuan yang melampaui konstruksi sosial kolonial. Ia mengunakan pengetahuan dan bahasa kolonial Belanda sebagai strategi resistensi, meskipun tetap terikat batas hukum dan norma kolonial feodal. Pramoedya melalui tokoh Nyai Ontosoroh tidak hanya menampilkan perlawanan terhadap sistem penindasan, tetapi juga melakukan dekonstruksi terhadap citra Nyai sebagai simbol subordinasi. Temuan ini memperluas pembacaan feminisme dalam sastra kolonial Indonesia melalui perspektif interseksional dan naratif.

Copyrights © 2025