Konstruksi identitas maskulin pada pria homoseksual berperan reseptif merupakan fenomena sosial kompleks yang membutuhkan pemahaman mendalam untuk mengembangkan pendekatan konstruktif dalam konteks masyarakat Indonesia yang heteronormatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses negosiasi identitas maskulin pada pria homoseksual berperan reseptif dan mengeksplorasi strategi adaptif yang dikembangkan untuk mencapai koeksistensi harmonis dengan norma sosial dominan. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan observasi partisipatif terhadap dua informan utama berusia 23 tahun di Wonosobo dan Yogyakarta. Analisis data menggunakan teknik analisis tematik dengan triangulasi sumber dan metode untuk memastikan validitas data. Temuan mengungkap empat proses negosiasi identitas: (1) Dilema Identitas: Penerimaan Diri dan Stigma Sosial; (2) Pembentukan safe spaces; (3) Proses Negosiasi Maskulinitas dalam Ruang Sosial dan Budaya; (4) Internalisasi Nilai Religius, serta tiga strategi utama dalam proses negosiasi identitas: (1) Redefinisi Maskulinitas Melalui Konsep "Lelaki Sejati yang Bertanggung Jawab"; (2) Pembentukan Ruang Aman Meliputi Lingkaran Pertemanan Selektif, Ruang Virtual, dan Ruang Privat Personal; (3) Keterbukaan Selektif Sebagai Strategi Pengelolaan visibilitas identitas. Perbedaan geografis menunjukkan informan di Yogyakarta memiliki akses lebih besar terhadap komunitas pendukung. Faktor struktural keluarga, internalisasi nilai religius, dan modal budaya kelas menengah mempengaruhi proses negosiasi secara signifikan. Negosiasi identitas maskulin menghasilkan bentuk maskulinitas kontekstual yang memfasilitasi integrasi sosial sembari mempertahankan keaslian diri.
Copyrights © 2025