Pengumuman resmi keanggotaan penuh Indonesia dalam blok BRICS, yang dikonfirmasi pada 6 Januari 2025, merupakan guncangan informasi geopolitik utama yang berpotensi memengaruhi persepsi risiko sistemik, ekspektasi investor, dan dinamika pasar modal domestik. Meskipun literatur yang ada telah membahas dampak risiko geopolitik terhadap pasar BRICS pendiri, studi yang berfokus pada reaksi pasar saham sektor perbankan, sektor yang sangat sensitive di negara anggota baru seperti Indonesia masih terbatas. Penelitian ini menggunakan metodologi event study untuk menganalisis kinerja harga saham dan volume perdagangan emiten perbankan sistemik terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama jendela peristiwa 14 hari, yang mencakup tujuh hari sebelum (t−7) dan tujuh hari sesudah (t+7) pengumuman resmi. Analisis, yang menggunakan Paired Sample t-test pada data harian tiga bank sistemik (BMRI, BBCA, BBNI), secara konsisten menunjukkan bahwa peristiwa geopolitik tersebut tidak menghasilkan perbedaan yang signifikan secara statistik pada harga saham maupun volume perdagangan. Temuan kuat ini mengindikasikan bahwa bank-bank sistemik yang mapan di Indonesia memiliki tingkat ketahanan (resilience) yang tinggi terhadap informational shock geopolitik. Hasil ini konsisten dengan Efficient Market Hypothesis bentuk semi-kuat, di mana informasi publik sudah tercermin dalam harga saham sebelum pengumuman resmi. Selain itu, stabilitas volume perdagangan menunjukkan bahwa shock tersebut dianggap tidak material oleh pelaku pasar, sesuai dengan Market Microstructure Theory. Penelitian ini menegaskan peran bank sistemik sebagai barometer stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam menghadapi risiko eksternal.
Copyrights © 2026