Penelitian ini mengkaji gambaran kecemasan terhadap pernikahan pada perempuan dewasa awal yang berasal dari keluarga broken home. Kecemasan yang muncul bersifat multidimensional, mencakup aspek afektif, kognitif, perilaku, dan fisiologis, yang dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, trauma perceraian orang tua, serta tekanan sosial dan budaya. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melibatkan lima subjek perempuan dewasa awal berusia 20–35 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-struktur dan observasi partisipatif, kemudian dianalisis dengan prosedur reduksi data, penyajian data, dan triangulasi untuk memastikan keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan kecemasan afektif ditandai oleh ketakutan emosional, rasa cemas, dan kekhawatiran berlebihan terhadap pernikahan; kecemasan kognitif muncul melalui pikiran negatif mengenai kegagalan rumah tangga, ketidakmampuan mempertahankan hubungan, dan trauma dari pengalaman keluarga; kecemasan perilaku meliputi penghindaran topik pernikahan, menunda komitmen, serta menjaga jarak dari pasangan; sementara kecemasan fisiologis terlihat melalui gangguan tidur, jantung berdebar, perubahan nafsu makan, dan kelelahan. Temuan ini menekankan perlunya intervensi psikologis komprehensif, termasuk konseling, edukasi relasi sehat, dan dukungan sosial, untuk membantu perempuan dewasa awal dari keluarga broken home mengenali pola kecemasan, mengelola pikiran negatif, dan membangun kesiapan emosional menghadapi pernikahan
Copyrights © 2025