Petani kopi di wilayah pedesaan sering menghadapi kendala struktural seperti ketiadaan kelembagaan tani, terbatasnya akses terhadap bantuan pemerintah dan CSR, serta lemahnya posisi tawar dalam pemasaran hasil panen. Kondisi tersebut juga dialami oleh petani kopi di Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, yang umumnya menjual kopi gelondong ke pengepul dengan harga rendah, antara Rp12.000–Rp18.000 per kilogram. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani melalui pembentukan paguyuban petani kopi serta penerapan praktik value-added berupa pengolahan pascapanen hingga tahap green bean. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pendampingan kelembagaan, pelatihan peluang pasar kopi, serta penyediaan mesin pengupas kopi skala kecil sebagai prototipe. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman petani terhadap pentingnya organisasi kolektif sebagai sarana memperluas akses sumber daya eksternal, sekaligus tumbuhnya kesadaran akan potensi peningkatan pendapatan melalui pengolahan pascapanen sederhana. Pengenalan mesin pengupas turut memperkuat kemampuan teknis petani dan mendorong diferensiasi produk. Secara keseluruhan, penguatan kelembagaan yang dipadukan dengan pengolahan green bean terbukti menjadi strategi efektif dalam meningkatkan daya saing dan posisi tawar petani kopi pedesaan.
Copyrights © 2025