The Peduli Kasih Orphanage houses 32 children who are orphans, abandoned, and poor. In their daily lives, the children are cared for by four administrators and private Quran teachers who come to the orphanage, but caring for such a large number of children is not optimal due to the limited time and energy of the administrators. The children's behavior and patterns are shaped by their interactions within and outside the orphanage. The absence of parents and limited conditions have made the children lack confidence in their potential, so they need moral education and guidance to motivate them to socialize, work, and achieve. Every child has their own strengths and advantages. The approach used in this community service activity is Service Learning. This method emphasizes practical aspects through the concept of Experiential Learning, which is applying academic knowledge in the community and interacting with the community. The community service was carried out on Sunday, December 14, 2025, at the Panti Asihan Peduli Kasih orphanage, located at Jalan Dwikora 2, Pemda Complex No. 90, RT. 02 RW. 01, Demang Lebar Daun Village, Ilir Barat 1 District, Palembang. The community service involved 4 (four) committee members and community leaders, as well as 32 foster children. The service process is filled with guidance in the form of education about self-confidence in children's daily interactions, interactive dialogues, and question and answer sessions. From the results of the dialogue, the children feel that their lack of ability to cope with life in the orphanage and the incompleteness of their families causes them to lack confidence in behaving, working, and exploring their abilities, thus becoming closed individuals who suppress their desire to achieve. This situation and condition of inadequacy often triggers distrust or lack of confidence in socializing and interacting in society. We have provided moral education that inadequacy is actually a motivational tool to move forward and that showing one's unfortunate circumstances is a means to success. It is common for successful people to come from privileged backgrounds, but it is extraordinary for someone to achieve success despite adversity and disability. [Panti Asuhan Peduli kasih menampung 32 orang anak yang berstatus yatim, yatim piatu dan fakir. Dalam kesehariannya, anak-anak diasuh oleh 4 (empat) orang pengurus ditambah guru private mengaji yang didatangkan kerumah, namun pengasuhan terhadap sejumlah anak yang cukup banyak tersebut kurang optimal dengan keterbatasan waktu dan tenaga pengurus. Perilaku dan pola tingkah anak terbentuk dari pergaulan di internal dan eksternal panti. Kurang lengkapnya orang tua dan kondisi yang terbatas membentuk pribadi anak yang kurang percaya diri terhadap potensi yang ada, sehingga perlu adanya edukasi moral dan pengarahan yang menjadikan semangat serta motivasi anak untuk bergaul, berkarya dan berprestasi. Setiap anak memiliki kelebihan dan keunggulan tersendiri. Metode pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian ini adalah Service Learning. Metode ini merupakan pembelajaran yang menekankan kepada aspek praktis melalui konsep Experiental Learning, yaitu menerapkan ilmu pengetahuan perkuliahan di tengah komunitas atau masyarakat dan berinteraksi dengan komunitas atau masyarakat. Pelaksanaan pengabdian dilakukan pada hari Minggu, 14 Desember 2025, bertempat di Panti Asihan Peduli Kasih, jalan Dwikora 2 komplek Pemda nomor 90 RT. 02 RW. 01 kelurangan Demang Lebar Daun, kecamatan Ilir Barat 1 Palembang. Pengabdian dihari 4 (empat) orang pengurus dan tokoh masyarakat serta para anak asuh yang berjumlah 32 orang. Pada proses pengabdian diisi dengan arahan berupa edukasi mengenai kepercayaan diri dalam pergaulan keseharian anak, dialog inter aktif dan sesi tanya jawab. Dari hasil dialog, anak-anak merasa kekurangmampuan atas kehidupan di panti asuhan dan ketidak lengkapnya keluarga menyebabkan kurang percaya diri dalam berlaku, berkarya, mengeksplorasi kemampuan diri, sehingga menjadi pribadi yang tertutup dan memendam keinginan untuk berprestasi tinggi. Situasi dan kondisi kekurang mampuan ini sering memicu ketidak percayaan atau kurang percaya diri dalam bergaul dan berinteraksi di masyarakat. Kami telah memberikan edukasi moral bahwa kekurangmampuan justru menjadikan alat motivasi untuk maju dan menunjukkan keadaan yang kurang beruntung adalah sarana menuju kesuksesan. Orang sukses yang berasal dari keadaan yang serba ada adalah biasa, sedangkan kesuksesan seseorang dari keterpurukan dan ketidakmampuan keadaan merupakan hal yang sangat luar biasa.]
Copyrights © 2025