Sifat sekali pakai dari styrofoam menimbulkan risiko lingkungan yang signifikan karena ketahanannya terhadap degradasi serta pelepasan partikel mikroplastik saat dibakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan biofoam berbasis pati sagu sebagai alternatif biodegradable terhadap styrofoam konvensional. Biofoam diproduksi melalui proses pemanasan dan pemadatan pada berbagai variasi suhu untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap sifat fisik dan daya urai. Hasil menunjukkan bahwa semua variasi suhu menghasilkan biofoam yang terurai sepenuhnya dalam waktu 60 hari, memenuhi standar biodegradabilitas yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun, hanya sampel yang diproses pada suhu 140°C dan 160°C yang memenuhi standar daya serap air, dengan nilai berkisar antara 6% hingga 26,12%. Suhu optimal diidentifikasi pada 160°C, yang menghasilkan biofoam dengan ketahanan terbaik terhadap kelembapan dan kebocoran. Temuan ini menekankan pentingnya pengendalian suhu dalam proses produksi untuk mencapai performa fisik yang optimal. Biofoam berbasis pati sagu menunjukkan potensi yang kuat sebagai solusi ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk aplikasi kemasan.
Copyrights © 2025