Pendahuluan: Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan global yang berdampak secara signifikan pada kualitas hidup penderitanya. Terapi farmakologis seperti SSRI umumnya digunakan sebagai lini pertama terapi depresi, namun memiliki keterbatasan berupa efek samping dan risiko relaps. Oleh karena itu, pendekatan non-farmakologis seperti yoga menjadi alternatif yang menjanjikan. Yoga menggabungkan latihan fisik, pernapasan, dan meditasi yang berperan dalam menurunkan gejala depresi melalui mekanisme fisiologis dan psikologis yang saling melengkapi. Bali, dengan nilai budaya seperti Tri Hita Karana serta berkembangnya pusat yoga dan spa, menunjukkan potensi besar untuk mengintegrasikan yoga sebagai bagian dari layanan wisata medis. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review terhadap jurnal nasional dan internasional dalam dua jalur analisis. Jalur 1 membahas mengenai efektivitas yoga sebagai terapi komplementer untuk depresi, sedangkan jalur 2 membahas mengenai potensi Bali sebagai destinasi wisata medis berbasis yoga. Analisis dilakukan dengan kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, dan Outcome) dan evaluasi kualitas metodologis berdasarkan pedoman CEBMa (Center for Evidence-Based Management). Pembahasan: Kajian menunjukkan bahwa yoga secara konsisten sangat efektif dalam menurunkan gejala depresi, terutama pada gangguan depresi tingkat ringan hingga sedang. Sementara itu, Bali mempunyai kekuatan budaya, spiritual, dan infrastruktur yang mendukung integrasi yoga dalam pariwisata medis holistik. Simpulan: Yoga dapat direkomendasikan sebagai bagian dari layanan wisata medis di Bali. Meski begitu, diperlukan regulasi, standarisasi, dan kolaborasi lintas sektor demi mengoptimalkan penerapannya sebagai terapi komplementer depresi dalam konteks wisata kesehatan. Kata Kunci: Bali, Depresi, Wisata Medis, Yoga
Copyrights © 2025