Bencana yang terjadi di Indonesia telah berdampak serius dan mengganggu penyelenggaraan layanan pendidikan. Dampak terburuk dari sebuah bencana adalah hilangnya nyawa maupun terjadinya cedera parah di sekolah. Namun demikian, sumber daya sekolah belum disiapkan untuk sigap dan tanggap dalam bencana. Berdasarkan kajian risiko bencana di PAUD Terpadu ‘Aisyiyah Kaliwates tidak tersedia rambu-rambu seperti jalur evakuasi, titik kumpul, dan protap kebencanaan. Sekolah belum melakukan simulasi secara rutin terkait penanggulangan bencana. Kegiatan yang dilakukan meliputi: 1) Focus Group Discussion bersama mitra terkait penyusunan instrumen kajian risiko bencana; 2) melakukan kajian risiko bencana; 3) menyusun standar prosedur operasional (SPO) penanggulangan bencana di sekolah; 4) membuat rambu-rambu seperti jalur evakuasi, titik kumpul, dan media edukasi; 5) melakukan pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB); 6) Melakukan simulasi penanggulangan bencana. Hasil menunjukkan pengetahuan guru tentang bencana sebelum sosialisasi sebagian besar dalam kategori tahu (46%) namun masih terdapat 4% yang menjawab sangat tidak tahu, 7% tidak tahu dan 30% cukup tahu. Setelah sosialiasi, pengetahuan guru tentang bencana meningkat menjadi sangat tahu sejumlah 70% dan sisanya 30% tahu. Keterampilan evakuasi korban, balut bidai, dan perawatan luka juga mengalami peningkatan. Dengan demikian maka SPAB perlu diimplementasikan di sekolah agar semua warga sekolah tanggap bencana.
Copyrights © 2026