Saluran primer Induk Barat melayani luas layanan 18.391 Ha. Dalam upaya meningkatkan jaringan irigasi perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana, maupun pemberharuan terkait metode pendistribusian air sehingga dapat mengoptimalkan layanan irigasi yang efektif, efisien dan proposional. Penelitian ini bertujuan untuk manganalisis kebutuhan air irigasi dengan perbandingan metode konvensional dan metode Irigasi Padi Hemat Air (IPHA) yang dikembangkan oleh BBWS Cimanuk-Cisanggarung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Dari hasil penelitian didapat kebutuhan air1irigasi rata – rata dalam 1 ha selama satu musim tanam pada saluran primer Induk Barat metode konvensional 1,1 lt/dt/ha, sedangkan metode IPHA 0,76 lt/dt/ha (efisiensi air penerapan metode IPHA 30% dari metode konvensional). Ketersediaan neraca air pada saluran Induk Barat dengan Q80% tidak dapat mencukupi kebutuhan air selama masa tanam MT I dan MT II pada metode konvensional. Sedangkan efisiensi irigasi pada saluran primer Induk Barat didapat hasil 69% kurang dari nilai efisiensi saluran primer yang ditetapkan 90% (KP-01,2013).
Copyrights © 2025