Pertumbuhan sektor industri di Kalimantan menunjukkan dinamika yang unik, di mana laju ekspansi ekonomi berjalan beriringan dengan tingginya ketergantungan terhadap energi fosil dan rendahnya kualitas tenaga kerja terampil. Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi upaya industrialisasi berkelanjutan, terutama dalam meningkatkan nilai tambah dan efisiensi energi di tengah potensi besar energi terbarukan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi energi terbarukan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor industri di Kalimantan, serta menguji peran tenaga kerja sebagai variabel mediasi dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi data panel, memanfaatkan data sekunder dari Badan Pusat Statistik dan Kementerian ESDM periode 2017–2023 untuk empat provinsi di Kalimantan. Analisis dilakukan dengan menguji hubungan langsung dan tidak langsung antara konsumsi energi terbarukan, jumlah tenaga kerja industri, dan pertumbuhan PDRB sektor industri. Selain itu, penelitian juga mengidentifikasi hambatan struktural yang memengaruhi optimalisasi transisi energi di wilayah ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi energi terbarukan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan PDRB sektor industri di Kalimantan. Setiap peningkatan konsumsi energi terbarukan sebesar 1% berkontribusi pada kenaikan PDRB industri sebesar 0,21%. Temuan ini diperkuat oleh peran tenaga kerja terampil sebagai mediator, di mana peningkatan adopsi energi terbarukan turut mendorong permintaan dan produktivitas tenaga kerja industri. Studi kasus di Kalimantan Barat memperlihatkan bahwa pabrik yang memanfaatkan biomassa limbah sawit mampu meningkatkan nilai tambah bruto industri hingga 12% dan penyerapan tenaga kerja terampil sebesar 23%. Namun demikian, adopsi energi terbarukan di sektor industri Kalimantan masih sangat terbatas, yakni hanya 3,8% dari total konsumsi energi, akibat tingginya biaya modal, rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja, serta distorsi harga akibat subsidi energi fosil.
Copyrights © 2025