Masa remaja merupakan tahap perkembangan penting yang ditandai dengan pembentukan identitas diri serta paparan terhadap tekanan emosional dan sosial. Ketika remaja gagal mengelola tekanan tersebut, kesehatan mental mereka dapat terganggu dan memicu munculnya perilaku maladaptif seperti self-harm. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana kesehatan mental yang buruk dapat memicu perilaku melukai diri sendiri pada remaja perempuan, serta mengidentifikasi faktor psikologis, sosial, dan keluarga yang berpengaruh. Tiga partisipan perempuan berusia 15–17 tahun dengan riwayat self-harm diwawancarai menggunakan pedoman semi-terstruktur. Data dianalisis secara tematik untuk menemukan pola dan makna utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik keluarga, tekanan akademik, dan hubungan sosial yang tidak sehat menyebabkan tekanan emosional, rasa hampa, dan kesulitan mengendalikan emosi negatif, sehingga self-harm menjadi mekanisme koping sementara. Penelitian ini menegaskan bahwa self-harm merupakan ekspresi dari penderitaan emosional yang tidak terselesaikan. Empati, komunikasi keluarga, dan kesadaran kesehatan mental penting untuk pencegahan dan penanganan.
Copyrights © 2026