Kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth.) telah lama digunakan dalam praktik pengobatan tradisional untuk gangguan ginjal dan gangguan metabolik. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur sistematis terhadap bukti farmakologi senyawa aktif kumis kucing sebagai agen diuretik dan antidiabetik, dengan studi kepustakaan berupa penelusuran pada Google Scholar dan PubMed rentang tahun 2020–2025. Sintesis dari sembilan studi menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi kumis kucing kaya akan flavonoid (sinensetin, luteolin, eupatorin) serta asam fenolat (asam litospermat) yang berperan dalam peningkatan diuresis dan natriuresis pada uji hewan, penghambatan enzim α-glukosidase, hingga modulasi jalur insulin (PTP1B, GLUT4). Studi in silico mendukung adanya interaksi multi-target antara senyawa tersebut dan protein target baik di ginjal maupun pada jalur metabolik glukosa. Aktivitas antioksidan dan antiinflamasi senyawa kumis kucing memperkuat efek protektif pada ginjal dan pankreas. Hasil pada praklinis konsisten dan menjanjikan, heterogenitas metode ekstraksi, keterbatasan standardisasi, serta minimnya bukti klinis pada manusia masih membatasi penerapan klinis. Disarankan langkah lanjutan berupa standardisasi fitokimia, studi farmakokinetik/toxikologi, dan uji klinis terkontrol untuk mengonfirmasi keamanan dan efektivitas fitofarmaka berbasis O. stamineus.
Copyrights © 2025