Resistensi antibiotik merupakan salah satu ancaman kesehatan global yang semakin meningkat akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat, baik pada manusia maupun hewan. Kondisi ini menurunkan efektivitas terapi penyakit infeksi dan berpotensi menimbulkan krisis kesehatan di masa depan. Oleh karena itu, penemuan antibiotik baru dengan pendekatan modern menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran kimia medisinal dalam penemuan obat baru yang mampu mengatasi resistensi antibiotik melalui integrasi metode in vitro dan in silico. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur menggunakan database Google Scholar dan ScienceDirect tahun 2020–2025 dengan kata kunci “resistensi antibiotik”, “antimikroba”, dan “kimia medisinal”. Dari hasil telaah, diperoleh berbagai studi yang menunjukkan efektivitas pendekatan kombinasi, antara lain uji aktivitas antibakteri senyawa alami dan sintetik, farmakokinetik, serta pemodelan komputasi seperti QSAR, molecular docking, dan algoritma berbasis AI. Hasilnya, beberapa senyawa potensial ditemukan, seperti NG1 dan DN1 hasil desain AI, seftarolin fosamil yang aktif terhadap MRSA, senyawa endofit maupun laut dengan aktivitas antibakteri signifikan, serta flavonoid modifikasi dengan afinitas tinggi terhadap target enzim. Kesimpulannya, integrasi pendekatan in vitro dan in silico terbukti efektif mempercepat penemuan antibiotik baru, menekan biaya penelitian, serta membuka peluang besar dalam menghadirkan terapi inovatif untuk menghadapi krisis resistensi antibiotik.
Copyrights © 2026