Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya fenomena kontroversi yang melibatkan sejumlah tokoh berstatus “gus” di Pulau Jawa yang memunculkan ketegangan antara idealitas etika-moral dalam tradisi pesantren dan realitas perilaku tokoh agama di ruang publik digital. Dalam konteks modern, otoritas keagamaan tidak lagi diterima secara otomatis berdasarkan garis keturunan atau posisi sosial, melainkan dinilai melalui konsistensi etika, akhlak publik, dan sensitivitas moral dalam interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komprehensif bagaimana kontroversi “gus” terbentuk, bagaimana moralitas tokoh agama direpresentasikan, serta bagaimana masyarakat merespon dinamika tersebut dalam perspektif etika normatif, moralitas sosial, dan konstruksi digital. Menggunakan metode penelitian kepustakaan, data dikumpulkan melalui buku, jurnal, serta pemberitaan dan konten digital yang relevan. Analisis dilakukan dengan content analysis dan critical discourse analysis untuk membandingkan idealitas etika keagamaan dengan perilaku empiris para gus yang memicu perdebatan publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital menciptakan rezim moral baru yang menuntut transparansi, kehati-hatian berbahasa, dan akuntabilitas publik yang lebih tinggi bagi tokoh agama. Kontroversi yang melibatkan Gus Elham, Gus Samsudin, dan Gus Miftah mengindikasikan rapuhnya legitimasi religius ketika perilaku tidak sejalan dengan nilai akhlak. Penelitian ini menegaskan perlunya revitalisasi etika publik tokoh agama serta penguatan pendidikan moral di pesantren agar otoritas keagamaan tetap relevan dan dipercaya masyarakat.
Copyrights © 2025