Jewish religious leaders, despite living within a deeply religious environment and actively engaging in ritual and institutional religious practices, were not always successful in applying the teachings of the Torah and the Prophets to their social and ethical lives. This study aims to examine the religious and socio-economic realities of these leaders during the time of Jesus, with particular attention to their lack of compassion toward the poor and suffering, even as they themselves lived in wealth and luxury, as illustrated in Jesus’ parable of the rich man and Lazarus (Luke 16:19–31). Employing a qualitative research approach, this article critically reviews, analyzes, and synthesizes relevant biblical texts, theological literature, and scholarly studies. The findings indicate that Jewish religious leaders, driven by an attachment to wealth, increasingly prioritized financial gain within their leadership practices. This ethical failure emerged from a mode of religious understanding that remained largely cognitive, without meaningful integration into the affective and practical dimensions of faith. As a result, inner spiritual transformation marked by divine virtues was absent, leading to an inability to embody love and compassion in concrete social relationships. This article contributes to contemporary theological discourse by arguing that authentic spiritual transformation requires an integrated formation of belief, moral sensibility, and social responsibility, particularly in addressing both personal and structural dimensions of poverty. AbstrakPara pemimpin agama Yahudi, meskipun hidup dalam lingkungan yang sangat religius dan aktif terlibat dalam ritual dan praktik keagamaan institusional, tidak selalu berhasil menerapkan ajaran Taurat dan para Nabi dalam kehidupan sosial dan etika mereka. Studi ini bertujuan untuk meneliti realitas keagamaan dan sosial-ekonomi para pemimpin ini pada zaman Yesus, dengan perhatian khusus pada kurangnya belas kasih mereka terhadap orang miskin dan yang menderita, bahkan ketika mereka sendiri hidup dalam kekayaan dan kemewahan, seperti yang digambarkan dalam perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19–31). Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, artikel ini secara kritis meninjau, menganalisis, dan mensintesis teks-teks Alkitab yang relevan, literatur teologis, dan studi ilmiah. Temuan menunjukkan bahwa para pemimpin agama Yahudi, yang didorong oleh keterikatan pada kekayaan, semakin memprioritaskan keuntungan finansial dalam praktik kepemimpinan mereka. Kegagalan etika ini muncul dari cara pemahaman keagamaan yang sebagian besar tetap kognitif, tanpa integrasi yang bermakna ke dalam dimensi afektif dan praktis iman. Akibatnya, transformasi spiritual batin yang ditandai dengan kebajikan ilahi tidak ada, yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mewujudkan kasih dan belas kasih dalam hubungan sosial yang konkret. Artikel ini berkontribusi pada wacana teologis kontemporer dengan berargumen bahwa transformasi spiritual yang autentik membutuhkan pembentukan keyakinan, kepekaan moral, dan tanggung jawab sosial yang terintegrasi, khususnya dalam menangani dimensi pribadi dan struktural kemiskinan.
Copyrights © 2025