Pemberdayaan kembali bahasa Banjar di sekolah dasar Banjarmasin sangat penting untuk mengantisipasi faktor-faktor ancaman dan kepunahan, karena bahasa nasional dan global telah berpengaruh besar terhadap anak-anak muda. Tujuan studi ini adalah untuk melaporkan penerapan program melalui kegiatan literasi dan pembelajaran kontekstual. Studi kasus kualitatif ini dilakukan dengan observasi non-partisipan selama sesi FTBI, wawancara semi-terstruktur dengan kepala sekolah, seorang guru kelas dua, dan seorang siswa kelas dua, serta analisis dokumen termasuk rencana pelajaran dan karya siswa di SDN Belitung Utara 3 Banjarmasin sebagai unit analisis. Temuan utama meliputi peningkatan ekspresi siswa melalui pengembangan literasi dalam cerita dan permainan tradisional (misalnya: cuk cuk bimbi), integrasi budaya melalui penggunaan dongeng-dongeng tersebut, serta hambatan seperti kurangnya buku materi konten lokal, durasi pelajaran dua jam, dan ketidakkonsistenan dalam pengembangan profesional guru. Bahkan adaptasi improvisasi yang sederhana seperti kamus saku dan pemilihan peserta lomba RBD terbukti efektif dalam menciptakan minat. Studi ini tidak hanya mempromosikan kebanggaan budaya, tetapi juga akan membantu pemulihan pasca-pandemi. Saran yang diajukan adalah agar kantor pendidikan memperluas FTBI melalui integrasi modul digital berbiaya rendah untuk implementasi secara nasional.
Copyrights © 2025