Pesantren sebagai bagian dari warisan budaya tak benda terus mampu beradaptasi di tengah perkembangan zaman modern tanpa meninggalkan tradisi ilmu keagamaan klasik. Artikel ini membahas cara pesantren beradaptasi melalui tiga aspek utama, yaitu integrasi ilmu pengetahuan, kekuatan tokoh pemimpin, dan ritual keagamaan. Dalam hal integrasi ilmu, pesantren menggabungkan pendekatan ilmu yang diperoleh dari jalan, ilmu yang didalami, dan ilmu yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Hal ini memungkinkan pesantren mengembangkan kurikulum yang bisa merespons ilmu pengetahuan modern sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Islam. Karisma tokoh pemimpin, atau kiai, berfungsi sebagai figur moral dan pendidik yang menjaga kelangsungan penyebaran ilmu dan membimbing santri dalam menghadapi berbagai tantangan di masyarakat dan dunia digital. Sementara itu, ritual keagamaan berperan dalam membangun kebiasaan berkelompok, memperkuat hubungan sosial, serta memperjelas identitas Islam di tanah air. Ketiga aspek tersebut membentuk lingkungan pesantren yang tetap bertahan dan relevan sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai, tradisi, dan kearifan lokal.
Copyrights © 2025