Aktivitas sistem rantai pasok farmasi memberikan informasi penting mengenai kebutuhan, permintaan, dan konsumsi obat pada suatu populasi, yang dapat dianalisis lebih lanjut untuk penyusunan kebijakan bidang farmasi. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran pasar farmasi di Indonesia dan seberapa besar produk obat telah diproduksi lokal untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan. Analisis dilakukan dengan metode kuantitatif dan pendekatan cross-sectional, berdasarkan data laporan triwulan PBF yang disampaikan kepada Kementerian Kesehatan melalui sistem e-Report PBF tahun 2019-2021. Dari 79% PBF yang melapor, diperoleh perkiraan nilai pasar tahun 2019 sebesar 85,8 triliun rupiah. Nilai ini mengalami pertumbuhan negatif sebesar -14,8% di tahun 2020 dan kembali meningkat pada tahun 2021 sebesar 6% dibanding tahun sebelumnya, seiring dengan pemulihan dari pandemi COVID-19. Pasar farmasi didominasi oleh produk dalam negeri yang diproduksi oleh industri farmasi PMDN dan PMA. Namun demikian, volume konsumsi produk impor yang hanya sekitar 1%, telah berkontribusi kepada 22% nilai pasar pada periode tersebut. Analisis konsumsi obat berdasarkan ATC, menunjukkan tingginya konsumsi kelompok obat antibakteri untuk penggunaan sistemik, kelompok obat sistem kardiovaskular, dan obat untuk penyakit diabetes. Berdasarkan wilayah, regional I memberikan kontribusi paling besar pada pertumbuhan pasar farmasi nasional, dimana sekitar 71,2% berdasarkan nilai terdistribusi di wilayah tersebut.
Copyrights © 2025