Keyakinan akan Allah Maha Kuasa merupakan fondasi utama dalam teologi Kristen yang menempatkan Allah sebagai pencipta, pengatur, dan penopang kehidupan. Namun, perkembangan filsafat modern, khususnya aliran positivisme yang digagas oleh Auguste Comte, menimbulkan tantangan signifikan terhadap legitimasi keyakinan teologis. Positivisme menolak pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, sehingga memandang konsep Allah sebagai sesuatu yang abstrak dan tidak valid dalam kerangka ilmiah. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana iman umat Kristiani dapat dipertahankan di tengah dominasi pandangan ilmiah-rasional yang mengesampingkan dimensi teologis. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data dikumpulkan dan dianalisis dari berbagai sumber literatur, seperti karya-karya teologi Kristen, tulisan-tulisan filsafat positivisme, serta penelitian relevan terkait hubungan antara iman dan akal budi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana konsep Allah Maha Kuasa tetap dapat dipertahankan secara teologis dalam konteks tantangan filsafat positivisme. Hasil kajian menunjukkan bahwa, meskipun positivisme menolak legitimasi kebenaran metafisik, konsep Allah dalam iman Kristen tetap dapat dijelaskan secara holistik melalui pendekatan teologis, rasional, dan etis, yang melampaui batasan metode empiris. Iman dan akal budi tidak harus dilihat sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan sebagai dimensi yang saling melengkapi dalam memahami kebenaran.
Copyrights © 2026