Latar Belakang: Anak-anak yang bekerja di lingkungan perkebunan tembakau memiliki risiko tinggi terkena Green Tobacco Sickness (GTS), yaitu keracunan nikotin akibat kontak langsung dengan daun tembakau. GTS diketahui dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah, dan penurunan nafsu makan, yang berdampak pada penurunan asupan gizi dan status gizi anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kejadian GTS, tingkat asupan zat gizi makro, dan status gizi anak petani tembakau di wilayah Puger, Kabupaten Jember. Metode:. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) yang dilakukan pada bulan September 2021 dengan melibatkan 38 anak usia 9–11 tahun dari MI Darussalam Puger II. Data dikumpulkan melalui kuesioner gejala GTS, food recall 1x24 jam untuk mengukur asupan protein, lemak, dan karbohidrat, serta pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi berdasarkan IMT/U. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebanyak 65,79% responden mengalami GTS, dan mayoritas memiliki asupan protein serta karbohidrat yang kurang. Terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian GTS dan status gizi (p = 0,048), serta antara asupan protein (p = 0,032) dan karbohidrat (p = 0,036) dengan status gizi. Anak yang mengalami GTS cenderung memiliki status gizi kurang. Kesimpulan: GTS berkontribusi terhadap penurunan nafsu makan dan asupan makanan, yang berdampak pada gizi kurang pada anak. Diperlukan intervensi gizi dan perlindungan kesehatan bagi anak-anak di lingkungan pertanian tembakau.
Copyrights © 2025