Abstract: This study explores Nasaruddin Umar’s modern Sufi thought, emphasizing wasathiyah (moderation), contextual spirituality, and the integration of inner ethics with social engagement. Rejecting escapist mysticism, Umar promotes practical Sufism that harmonizes spiritual consciousness (ihsan) with social transformation. Using a library research approach based on his work Tasawuf Modern, the study finds that Umar’s Sufism addresses urban issues such as alienation, materialism, and social disconnection by fostering inner peace, tolerance, interfaith dialogue, and community empowerment through religious institutions. Ultimately, his thought represents a model of practical and socially relevant Sufism for contemporary urban life.Keywords: Modern Sufism, Nasaruddin Umar, urban society, public religiosity, social cohesion.Abstrak: Artikel ini mengkaji pemikiran tasawuf modern Nasaruddin Umar yang menekankan moderasi (wasathiyah), relevansi sosial, dan etika spiritual dalam kehidupan modern. Menolak tasawuf yang bersifat eskapistis, Umar menawarkan sufisme praktis yang menggabungkan dimensi batin (ihsan) dengan transformasi sosial. Melalui studi pustaka terhadap karya Tasawuf Modern dan referensi terkait, penelitian ini menemukan bahwa pemikiran Umar relevan dalam menjawab tantangan masyarakat urban seperti alienasi, materialisme, dan disintegrasi sosial. Tasawuf menjadi sarana menumbuhkan ketenangan batin, memperkuat etika sosial dan toleransi, serta mendorong peran masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, tasawuf Umar merepresentasikan paradigma sufisme praktis yang relevan bagi kehidupan urban kontemporer.Kata kunci: Tasawuf modern, Nasaruddin Umar, masyarakat urban, religiositas publik, kohesi sosial.
Copyrights © 2025