Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian global, termasuk di Indonesia. Terapi kardiovaskular saat ini telah mengalami kemajuan signifikan, namun efektivitasnya masih bervariasi antar individu. Variasi ini sebagian besar dipengaruhi oleh faktor genetik, khususnya polimorfisme gen yang berperan dalam metabolisme dan respons terhadap obat. Artikel ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis bukti ilmiah terkait pengaruh polimorfisme genetik terhadap respons terapi kardiovaskular, serta mengevaluasi potensi integrasi farmakogenomik dalam personalisasi pengobatan PJK. Metode yang digunakan adalah penelusuran literatur dilakukan melalui database PubMed, ScienceDirect dan Google Scholar untuk artikel yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2024. Sebanyak 32 artikel yang ditemukan dan 7 di antaranya dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukan Polimorfisme genetik seperti CYP2C19, SLCO1B1, VKORC1, dan ABCB1 terbukti mempengaruhi efektivitas dan keamanan obat kardiovaskular seperti clopidogrel, statin, dan warfarin. Selain itu, skor risiko poligenik (PRS) mulai digunakan sebagai alat prediksi risiko PJK. Implementasi klinis farmakogenomik masih terbatas, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Kesimpulan, Integrasi farmakogenomik berpotensi meningkatkan efektivitas terapi PJK melalui pendekatan personalisasi. Diperlukan lebih banyak studi berbasis populasi lokal serta dukungan kebijakan kesehatan untuk mengoptimalkan penerapannya di praktik klinis.
Copyrights © 2025