Mengingat percepatan ekspansi di berbagai industri, kebutuhan air baku untuk berbagai penggunaan terus meningkat. Di sisi lain, ketersediaan air bersih masih terbatas. Pasokan air bersih juga menjadi masalah di Kawasan Industri x. Wilayah ini memiliki suplai air yang cukup dalam bentuk bosem dan jaringan distribusi yang mendistribusikan air bersih ke gudang dan perusahaan di wilayah tersebut, namun persoalannya adalah bagaimana mengolah dan mendistribusikan air dari sumber air tersebut ke daerah yang belum memiliki jaringan distribusi air bersih yang optimal sehingga pelanggan bisa mendapatkannya. Studi ini menggunakan cara pengumpulan data dari pengembang kawasan industri x. Program Epanet dapat digunakan untuk merancang distribusi air bersih dan sebagai tolok ukur untuk mengevaluasi dan membandingkan kondisi lapangan. Hasil analisis menunjukkan 26 lokasi junction melebihi kriteria kualitas (>100 m), dengan nilai tekanan minimum 49,25 m dan nilai tekanan maksimum 102,72 m. Tujuh puluh enam pipa distribusi air memiliki kecepatan di bawah 0,3 m/s, sedangkan satu pipa memiliki kecepatan di atas syarat mutu, yaitu 3,7 m/s pada jam-jam kritis. Hasil EPANET menunjukkan bahwa sekitar pukul 11.00, 13.00, dan 14.00 terjadi tekanan negatif yang menandakan bahwa pipa kehilangan air atau tekanan sehingga air tidak dapat disalurkan ke pelanggan. Hal ini sesuai dengan kondisi lapangan, dimana pada jam – jam kritis itu terjadi penggunaan air yang tinggi.
Copyrights © 2022