Penelitian ini berlatarbelakangi gereja sering terjebak dalam pemisahan antara aspek spiritual (liturgi) dan tindakan sosial (diakonia). Di satu sisi, liturgi sering kali dianggap sebagai seremonial formal yang hanya berlangsung di ruang ibadah, sementara di sisi yang lain, diakonia sering kali diterapkan sebagai tindakan amal yang kurang memiliki dasar teologis yang kuat. Fenomena kemiskinan yang terstruktur dan ketidakadilan sosial mendesak gereja untuk merevisi pemahaman identitasnya. Pemikiran Ronald J. Sider memberikan sudut pandang “belas kasih” yang tidak hanya emosional tetapi juga bersifat struktural dan menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep belas kasih dalam pandangan teologi Ronald J. Sider. Mengembangkan konsep belas kasih tersebut sebagai jembatan teologis yang menghubungkan liturgi dan diakonia. Merumuskan penerapan praktis bagi gereja dalam menjalankan misi yang komprehensif di tengah tantangan sosial dan ekonomi. Metode penelitian ini memanfaatkan pendekatan kualitatif melalui studi literatur. Analisis dilakukan pada karya-karya utama Ronald J. Sider, khususnya yang berkaitan dengan keadilan sosial dan gaya hidup sebagai orang Kristen. Data dianalisis secara deskriptif dan analitis serta diinterpretasikan melalui sudut pandang teologi praktis untuk menemukan relevansinya dengan praktik liturgi dan diakonia saat ini. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pengintegrasian pemikiran etika sosial Sider ke dalam konteks liturgis. Sementara pemikiran Sider umumnya dibahas dalam konteks sosiologi agama atau etika ekonomi, penelitian ini secara khusus menjadikan “belas kasih” sebagai fondasi liturgi. Ini mengubah cara pandang liturgi dari hanya “ibadah vertikal” menjadi “perayaan keadilan” yang mendorong tindakan diakonia yang transformatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa belas kasih menurut Ronald J. Sider adalah bentuk ketaatan yang radikal kepada Kristus yang perlu termanifestasi dalam dua arah: Dalam Liturgi: Belas kasih berfungsi sebagai jiwa yang menghidupkan sakramen dan pemberitaan firman, sehingga ibadah bukanlah penghindaran dari dunia, melainkan pengutusan untuk menjangkau dunia. Dalam Diakonia: Belas kasih mengangkat diakonia dari sekadar bantuan sementara menjadi perjuangan untuk keadilan bagi orang-orang miskin. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa liturgi yang sejati harus menghasilkan diakonia, dan diakonia yang hakiki merupakan wujud dari liturgi yang hidup. Keduanya dihubungkan oleh satu.
Copyrights © 2025