Dalam sejarah peradaban Islam, pencapaian yang luar biasa terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan terjadi pada masa Dinasti ‘Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa ini tidak terlepas dari perhatian dan dorongan dari para khalifah dengan memberikan wadah atau tempat, seperti Bait al-Hikmah dan memberikan imbalan yang sesuai sebagai bentuk motivasi dan apresiasi terhadap karya-karya ilmuwan Muslim. Dalam tulisan ini penulis akan membahas sejauhmana fungsi dan peran serta kontribusi Bait al-Hikmah dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap peradaban dunia, terutama pada masa tiga khalifah, yakni Abu Ja’far al-Mansur, Harun al-Rasyid, dan al-Ma’mun. Adapun metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode sejarah dengan meliputi empat tahapan, yakni heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Tulisan ini menyimpulkan bahwa fungsi dari Bait al-Hikmah tidak saja hanya sebagai perpustakaan, tetapi juga sebagai pusat penerjemahan, pendidikan serta penelitian. Sedangkan peran Bait al-Hikmah pertama, sebagai wadah dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kedua, pembentukan pola pikir, dan yang ketiga, sebagai tempat akulturasi berbagai budaya. Adapun kontribusi Bait al-Hikmah ini lahirnya ilmuwan-ilmuwan Muslim yang mendunia dan memiliki kepakaran dalam berbagai bidang yang menjadi cikal bakal ide dan gagasan bagi ilmuwan Barat saat ini.
Copyrights © 2024