Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik, yang memiliki risiko tinggi terjadinya gempa bumi. Provinsi Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman, termasuk wilayah rawan gempa karena berada di titik pertemuan zona megathrust, sesar Opak, dan zona subduksi. Penelitian ini bertujuan menciptakan sistem kontrol gempa bumi double sensing berbasis IoT menggunakan algoritma LOS-NLOS untuk transmisi sinyal dan penentuan radius gempa yang terintegrasi dengan aplikasi dan situs web berbasis model 3-tier. Sistem ini dirancang dengan menggunakan Real Time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) dan accelerometer untuk mendeteksi jenis gempa tektonik atau vulkanik melalui nilai seismik dan pergeseran tanah, serta dilengkapi buzzer alarm sebagai tanda bahaya. Sistem bekerja selama 24 jam menggunakan sel surya monocrystalline berdaya 10.000 mAh dari powerbank dengan step down untuk efisiensi daya. Pengembangan sistem dilakukan dengan model Research and Development Borg and Gall, uji validasi dan kalibrasi menggunakan alat standar, serta pengujian aplikasi dan situs web melalui metode System Usability Scale (SUS). Hasil uji menunjukkan korelasi 0,9–1 dengan akurasi nilai error ± 1,035. Sistem ini mendukung tujuan SDGs Pilar 11 untuk menciptakan lingkungan aman dan berkelanjutan, serta diharapkan mampu menurunkan risiko korban jiwa akibat gempa bumi, khususnya di Kabupaten Sleman.
Copyrights © 2025