Persoalan sampah semakin mendesak, terutama bagi Indonesia yang menjadi negara penghasil sampah kelima terbesar di dunia. Di Yogyakarta, krisis ini memuncak pasca penutupan TPA Piyungan pada April 2024 yang menyebabkan penumpukan dan pembuangan liar. Dominasi sampah rumah tangga dan sisa makanan memperburuk situasi karena tidak tertangani secara optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis data sekunder dan wawancara mendalam untuk menelaah dinamika pengelolaan sampah di Yogyakarta, serta mengeksplorasi faktor sosial, kultural, dan manajerial yang mempengaruhi. Pada 2023, hanya 40,47% sampah tertangani, sementara produksi meningkat 8,61% pasca-pandemi. Sampah sisa makanan menurun 16,4%, namun sampah plastik naik 11,04%. Sebanyak 39% warga tidak memilah sampah dan 29% mengabaikan prinsip 3R. Ketergantungan pada petugas kebersihan dan rendahnya kesadaran individu mencerminkan masalah budaya. Sistem yang ada belum mampu mengatasi lonjakan timbulan, terutama saat liburan. Dibutuhkan pendekatan komunitas, penguatan kelembagaan lokal, optimalisasi TPST, teknologi tepat guna, edukasi publik, dan dinergi lintas sektor. Transformasi berbasis budaya lokal, kolaborasi lintas sektor, dan edukasi penting untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan di Yogyakarta.
Copyrights © 2025