Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang membutuhkan perhatian karena dapat menimbulkan komplikasi dan menyebabkan kematian. Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan pada tahun 2025 di seluruh dunia akan ada 1,5 miliar orang terkena hipertensi dan diperkirakan setiap tahunnya 9.4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya. Komplikasi hipertensi yang sering terjadi adalah stroke . Stroke menempati peringkat ke-3 penyebab kematian di Indonesia dan juga merupakan peringkat ke-3 penyebab kecatatan di seluruh dunia. Pemerintah Indonesia saat ini melaksanakan transformasi sistem kesehatan yang salahsatu pilarnya adalah transformasi pelayanan primer. Dalam transformasi pelayanan primer tersebut perlu dilaksanakan pencegahan sekunder yakni skrining penyakit hipertensi. Skrining terhadap penderita hipertensi ini sangat penting untuk mencegah terjadinya hipertensi lebih berat dan kejadian stroke. Permasalahannya siapa yang harus melakukan skrining awal di masyarakat ? Kader kesehatan yang saat ini selalu berada ditengah masyarakat dapat diberdayakan, namun kemampuan mereka dalam melakukan skrining masih rendah sehingga kurang percaya diri, untuk itu perlu kader dengan kompetensi yang memadai yang tentunya melalui pelatihan. Tujuan kegiatan ini untuk mendapatkan gambaran apakah pelatihan dengan pola 30 jam pelajaran efektif dalam meningkatkan kompetensi kader kesehatan dalam melakukan skrining hipertensi . Metode yang diterapkan adalah pelatihan pola 15 jam teori dan 15 jam praktik. Hasil pelatihan menunjukkan terjadi peningkatan kompetensi baik pengetahuan, sikap, keterampilan dan rasa percaya diri kader kesehatan untuk melakukan skrining. Kesimpulan : pelatihan kader dengan pola 15 jam teori dan 15 jam praktik dapat meningkatkan kompetensi dan rasa percaya diri kader dalam melakukan skrining skrining awal penderita hipertensi
Copyrights © 2025