Latar belakang: Penyakit kardiovaskular, terutama morbiditas dan mortalitas global. Operasi Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) dilakukan untuk memulihkan aliran darah miokardium dan fungsi jantung, namun pasien pasca-CABG akan menghadapi keterbatasan mobilitas, kelelahan, nyeri, dan masalah psikososial, sehingga memerlukan Continuity of Care (CoC) setelah pulang dari Rumah Sakit. Tujuan: Memetakan penerapan CoC pasca-CABG, menilai dampaknya terhadap hasil kesehatan dan praktik keperawatan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitasnya. Metode: Literature review mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur di PubMed, ScienceDirect, ProQuest, dan Google Scholar (2015–2025) menghasilkan 6.429 artikel, dari mana 7 artikel penelitian asli disertakan. Data diekstraksi mencakup karakteristik studi, bentuk intervensi CoC, dan hasil utama. Analisis tematik digunakan, sementara kualitas studi dinilai dengan Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Tools. Hasil: Tiga tema utama muncul: 1) Ragam bentuk implementasi CoC (rujukan otomatis, rehabilitasi rawat jalan, tele-rehabilitasi, discharge planning, yoga-based), 2) Dampak terhadap pemulihan klinis, kualitas hidup, dan kemandirian pasien, serta 3) Faktor yang memengaruhi efektivitas (usia, komorbiditas, kesiapan fisik, dukungan keluarga, akses teknologi). Kesimpulan: CoC pasca-CABG efektif mendukung pemulihan klinis, kualitas hidup, dan kemandirian pasien melalui pendekatan multidisiplin, edukasi, dukungan sosial, dan pemanfaatan teknologi.
Copyrights © 2026