Adekuasi hemodialisis merupakan indikator utama keberhasilan terapi pada pasien End-Stage Renal Disease (ESRD). Dua parameter yang sering digunakan adalah Ureum Reduction Rate (URR) dan Kt/V. Praktik penggunaan dialyzer single use direkomendasikan untuk menjaga efisiensi difusi dan konveksi zat terlarut selama hemodialisis. Namun, bukti empiris di Indonesia masih terbatas. Menganalisis pengaruh penggunaan dialyzer single use terhadap nilai URR dan Kt/V pada pasien ESRD di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan pre–post pada 60 pasien ESRD. Nilai URR dan Kt/V diukur sebelum implementasi dialyzer single use (periode reuse) dan setelah implementasi single use. Analisis menggunakan paired t-test. Besaran efek dilaporkan sebagai selisih rerata (Δmean) dengan 95% confidence interval (CI). Rerata URR meningkat signifikan dari 61,2 ± 6,8% menjadi 71,9 ± 7,1% (Δmean +10,7%; 95% CI 8,9–12,5; p = 0,0001). Rerata Kt/V meningkat signifikan dari 1,05 ± 0,19 menjadi 1,36 ± 0,21 (Δmean +0,31; 95% CI 0,26–0,36; p = 0,0001). Secara klinis, ketercapaian URR >65% meningkat menjadi 85%, dan Kt/V >1,2 menjadi 87%. Penggunaan dialyzer single use berpengaruh signifikan terhadap pencapaian adekuasi hemodialisis yang diukur melalui URR dan Kt/V pada pasien ESRD. Implementasi kebijakan single use dialyzer direkomendasikan sebagai standar praktik klinis untuk meningkatkan kualitas layanan hemodialisis.
Copyrights © 2026