Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pemberdayaan komunitas ditingkatkan melalui pelestarian seni batik tradisional Tangerang, yang berpusat di Kampung Budaya Kemuning, Desa Kemuning, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Pengembangan batik Tangerang bermula pada tahun 2007, dengan motif Rambutan Parakan sebagai awalnya, yang kemudian diformalkan dan dipasarkan dengan merek Nyipohaci. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan sesi berbagi pengetahuan dengan H. Ali Taba, pendiri Kampung Budaya, yang memberikan wawasan tentang proses kreatif serta hambatan yang dihadapi dalam memberdayakan komunitas lokal. Dukungan juga datang dari Program Pengabdian Masyarakat (KKN) Universitas Cendekia Abditama, yang memperkenalkan kegiatan pelatihan seperti pembuatan batik, tenun tampah, dan produksi makanan lokal seperti opak—inisiatif yang tidak hanya memperkuat identitas budaya tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi desa. Temuan menunjukkan bahwa strategi pelestarian budaya berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kesadaran komunitas tentang nilai ekonomi dan filosofis yang terkandung dalam produk kreatif, meskipun tantangan tetap ada akibat pola pikir sebagian warga yang lebih mengutamakan keuntungan finansial cepat daripada upaya berkelanjutan.
Copyrights © 2026