‘Abdul Karim al-Jîlî dalam kitabnya al-Insân al-Kâmil menafsirkan Dhamîr Huwa (insan) dalam surat Al-Ikhlas dengan narasi ”Katakan Dia-nya Muhammad itu Allah”. Al-Jîlî menafsirkan Dhamîr Huwa dengan metode tafsir isyârî dalam konteks hakikat sebagai kapasitasnya ulama sufi. Tafsir isyârî memberikan makna yang lebih mendalam dengan melihat hubungan antara Tuhan dan makhluk dalam konteks spiritualitas sufi. Syaikh Amran Waly al-Khalidi, seorang ulama sufi kontemporer di Aceh, mempertahankan ajaran tasawuf kesufian untuk menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dalam masyarakat modern, meskipun menghadapi tantangan berupa penolakan dan stigma dari sebagian kalangan. Dukungan beliau terhadap pendapat ‘Abdul Karim al-Jîlî dalam penafsiran Dhamîr Huwa dalam Surat Al-Ikhlas menimbulkan kontroversi, termasuk tuduhan bahwa ajaran ini mengarah pada paham panteisme. Perbedaan pendekatan ini mencerminkan dinamika pemikiran Islam dalam memahami hakikat ketuhanan dan peran manusia dalam kosmos. Polemik yang muncul terkait dengan konsep ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat antara ulama yang mendukung pendekatan tasawuf hakiki/zati/irfani dengan mereka yang berpegang pada tafsir tekstual. Pendekatan tafsir isyârî yang digunakan dalam penafsiran Dhamîr Huwa pada Surat Al-Ikhlas memberikan alternatif hermeneutik yang memperkaya khazanah tafsir Al-Qur’an. Tafsir ini tidak bersifat legalistik-formal, tetapi lebih berfokus pada penggalian makna batiniah dan esoterik dari teks suci. Dhamîr Huwa dalam ayat “Qul Huwa Allâhu Ahad” dimaknai secara simbolik sebagai cerminan hakikat Muhammadiyyah yang menyatu secara spiritual dalam kesempurnaan tauhid dan bukanlah bentuk penyamaan makhluk dengan Tuhan, melainkan cara untuk memahami kedekatan spiritual antara keduanya dalam perspektif sufi.
Copyrights © 2026