Ibadah haji merupakan ibadah personal yang diwajibkan bagi orang Islam, minimal sekali selama hidupnya, dengan catatan memiliki istitha’ah atau kemampuan. Menurut Shibab, istitha’ah meliputi aspek finansial, kesehatan fisik, dan mental, serta kemampuan meninggalkan keluarga dalam keadaan aman ketika berhaji. Namun, saat ini, makna “mampu” dalam berhaji telah mengalami pergeseran. Banyak orang yang sebenarnya tidak mampu secara finansial, namun mengusahakan dengan keras untuk bisa berhaji. Pergeseran makna ini salah satunya direpresentaikan secara menarik dalam web series yang berjudul "Naik-Naik ke Tanah Suci" yang ditayangkan di channel BPKH RI. Salah satu simbol di film tersebut menyiratkan pesan bahwa berhaji bukanlah hak istimewa orang kaya, tetapi merupakan impian spiritual yang dapat diraih siapa saja yang berusaha. Representasi tersebut dibentuk secara sadar melalui konstruksi tanda, baik verbal, visual, maupun narasi yang memiliki makna mendalam. Sehingga, tujuan studi ini adalah mengetahui makna istitha’ah berhaji ditinjau dari simbol-simbol visual, verbal, dan naratif dalam web series Naik-Naik ke Tanah Suci. Studi ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan semiotika Roland Barthes. Hasil studi menunjukkan, web series ini membentuk narasi istitha’ah berhaji, tidaklah selalu berkaitan dengan materi. Tetapi juga berkaitan dengan mengusahakan dan memampukan diri secara sungguh-sungguh. Istitha’ah yang selainnya meliputi fisik, administratif, dan pengetahuan atau pemahaman haji.
Copyrights © 2026