Artikel ini membahas pengaruh tradisi Arab pra-Islam terhadap pembentukan pemikiran akhlak dalam Islam. Melalui proses akulturasi, Islam menerima nilai-nilai positif seperti kejujuran dan kedermawanan, mereformasi aspek sosial seperti diskriminasi gender dan perbudakan, serta menolak elemen negatif seperti penyembahan berhala dan fanatisme kesukuan. Pendekatan historis-kritis digunakan untuk menganalisis bagaimana wahyu Islam berinteraksi dengan konteks budaya Jahiliyah, menghasilkan sistem akhlak yang berlandaskan tauhid dan keadilan. Implikasi kontemporer dibahas dalam konteks masyarakat modern, termasuk di Indonesia, di mana akhlak Islam dapat diterapkan untuk mengatasi isu sosial seperti ketidaksetaraan dan konflik budaya.
Copyrights © 2026