Penelitian ini dilatarbelakangi oleh transformasi teknologi pertanian di Nagari Tanjung Betung Timur melalui penggunaan mesin pemanen padi (jarwo) yang secara fundamental mengubah praktik pertanian tradisional. Jumlah buruh tani berkurang drastis dari 871 orang menjadi 24 operator untuk 12 unit mesin, sekaligus menggeser pola interaksi sosial dari gotong royong menuju aktivitas individualistis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap petani pemilik lahan, buruh tani, operator mesin, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan adanya dampak kontradiktif: efisiensi ekonomi bagi petani pemilik lahan dengan penurunan biaya panen dari Rp4.200.000 menjadi Rp2.880.000 per 10.404 m², serta peningkatan pendapatan pemilik mesin hingga Rp3–4 juta per hari. Namun, 97,2% buruh tani mengalami penurunan kesejahteraan akibat hilangnya mata pencaharian. Meskipun demikian, 60% keluarga buruh berhasil beradaptasi dengan menemukan sumber pendapatan alternatif. Dari perspektif ekonomi Islam, penerapan teknologi ini memerlukan evaluasi agar prinsip keadilan dan kesejahteraan dapat tercapai bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya kelompok yang rentan.
Copyrights © 2026