Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran guru sebagai fasilitator dalam upaya mencegah perilaku bullying yang ada di sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode tanya jawab (wawancara) dan pengamatan langsung (observasi) kepada guru, kepala sekolah, dan murid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sekolah tersebut masih sering terjadi saling ejek nama orang tua, tindakan fisik ringan, hingga kakak kelas yang meminta uang secara paksa kepada adik kelas. Menghadapi hal ini, guru tidak lagi hanya mengajar di depan kelas, tetapi bertindak sebagai "teman bicara" bagi siswa. Guru lebih memilih mengajak siswa berdiskusi dari hati ke hati untuk menanamkan rasa peduli daripada langsung memberikan hukuman berat. Langkah pencegahan dilakukan dengan cara mendekati siswa secara emosional dan bekerja sama dengan orang tua. Hasilnya, siswa jadi lebih berani untuk melapor jika diganggu. Namun, tantangan yang ada adalah siswa seringkali masih menganggap ejekan sebagai candaan biasa karena belum paham batasannya. Selain itu, banyaknya tugas administrasi membuat guru terkadang sulit mengawasi siswa setiap saat. Kesimpulannya, peran guru yang peduli dan mau mendengarkan adalah kunci utama mencegah bullying, namun sekolah juga perlu memberikan dukungan agar guru memiliki lebih banyak waktu dan kemampuan untuk merangkul perasaan setiap siswa.
Copyrights © 2025