Indonesia menempati posisi keempat dalam ekspor udang global dengan pangsa pasar 5,5%, namun mengalami penurunan nilai ekspor dari USD 1,19 miliar (2015) menjadi USD 1,09 miliar (2024). Penelitian ini menganalisis daya saing ekspor udang Indonesia periode 2015-2024 menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), Growth RCA, dan Export Product Dynamics (EPD) dengan membandingkan posisi Indonesia terhadap tiga kompetitor utama: Ekuador, India, dan Vietnam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Indonesia masih memiliki keunggulan komparatif (RCA > 1), terjadi penurunan daya saing sebesar 47,3% dengan nilai RCA menurun dari 9,46 (2015) menjadi 4,99 (2024). Analisis RSCA mengkonfirmasi penurunan spesialisasi ekspor dari 0,809 menjadi 0,666, menempatkan Indonesia pada posisi terendah di antara empat eksportir utama. Growth RCA menunjukkan pertumbuhan negatif pada 8 dari 9 tahun observasi, dengan penurunan paling drastis terjadi pada 2021-2022 (-34,69% dan -37,87%). Analisis EPD memperlihatkan perubahan posisi Indonesia dari 'Rising Star' menjadi 'Lost Opportunity' secara konsisten sejak 2021, mengindikasikan kehilangan pangsa pasar meskipun permintaan global meningkat. Temuan menunjukkan perlunya reformasi komprehensif dalam efisiensi produksi, penguatan kualitas, diversifikasi pasar, dan pengembangan infrastruktur untuk meningkatkan daya saing ekspor udang Indonesia di pasar internasional.
Copyrights © 2026